Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Selasa, 22 Desember 2015

Cara Membuat Pupuk Kompos Organik Lengkap dan Mudah

Cara membuat pupuk kompos cukup sederhana dan bisa anda lakukan setiap saat asalkan menyiapkan bahan lengkap dan perlakuan dalam membuat pupuk kompos secara benar. Kompos adalah pupuk organik yang dibuat dari campuran kotoran, dedaunan atau sayuran busuk hingga menjadi pupuk yang bagus untuk menyuburkan tanaman.


Pertama, siapkan bahan lengkap

EM4 adalah cairan berisi 90% mikroba lactobacilus sp, mikroba ini termasuk mikroba degradator kuat atau disebut sebagai pengurai bahan organik kuat atau dalam juga bisa disebut komposer kuat untuk membuat kompos.

Beli EM4 di toko-toko pertanian

Bahan:

Kotoran ternak. Sapi, kerbau, kambing dan domba 1000 kg/ 1 ton
Jerami yang dicacah terlebih dahulu (secukupnya)
Arang Sekam (secukupnya), Sekam yang sudah dibakar namun tidak samapi menjadi abu.
bubuk gergaji/ dedaunan dan bahan-bahan organik lainnya
Air (20 liter)
EM4 (4 sendok )
Gula pasir (5 sendok makan)
Jerami / plastik (penutup adonan kompos)


Alat: sekop, cangkul, sarung tangan


Langkah-langkah cara Pembuatan Pupuk Kompos Organik






1. Siapkan media pembuatan pupuk, ditempat yang sejuk ada naungan tidak terkena matahari langsung dan tidak kena hujan.

2. Larutkan EM4 + gula kedalam air (dekomposer)

3. Lapisan pertama, Campurkan Kotoran ternak dengan arang sekam kemudian aduk hingga merata, setelah itu taburkan (EM4 dan gula yang sudah dilarutkan dalam air) tadi secukupnya aduk hingga merata.

4. Lapisan Kedua Taburkan jerami, dedak, bubuk gergaji dan bahan-bahan organik lainnya hingga merata kemudian siramkan dekomoser tadi.

5. Setelah itu tutup rapat tumpukan bahan-bahan tadi dengan rapih dengan menggunakan karung goni dan jerami.

6. Hari Kedua aduk adonan tersebut hingga merata dan tutup kembali rapat-rapat.

7. Mnitoring setiap pagi dan sore, dengan cara memasukan tangan (dengan sarung tangan) jika tangan kita tidak kuat menahan panas adonan maka adonan belum siap dipakai. aduk setiap melakukan monitoring.

8. Biasanya hari ke 5-7 adonan sudah siap, cara menceknya masukan tangan anda jika bisa menahan panas adonan maka pupuk kompos organik siap dipakai.

Data Jenis Tanaman Hortikultura



Macam-macam dari jenis tanaman hortikultura ada banyak di lingkungan sekitar contohnya seperti tanaman buah, sayur, bunga dan obat . Pada umumnya orang belum bisa membedakan antara tanaman hortikultura dan tanaman kebun yang dibudidayakan. Hortikultura (horticulture) berasal dari bahasa Latin hortus (pekarangan) dan cultura/colere (budidaya), dan dapat diartikan sebagai tanaman yang di tanam di pekarangan (kebun di sekitar rumah). Kemudian hortikultura digunakan secara lebih luas yang dibudidayakan di ladang perkebunan.


Ada 4 jenis tanaman hortikultura

1. Tanaman buah / Pomologi / Frutikultur

Buah-buahan Semusim : tomat, melon, semangka, blewah, stroberi



Buah-buahan Tahunan : mangga, manggis, rambutan, duku/langsat/kokosan, sukun, pepaya, sawo, jambu biji, belimbing, nangka, sirsak, markisa, jeruk, anggur, alpukat, durian, apel, jambu air, salak, nenas, pisang.




2. Tanaman bunga / hias / Florikultura




Komoditi Tanaman Hias : anggrek, anthurium bunga, anyelir, gerbera, gladiol, heliconia, krisan, mawar, sedap malam, dracaena, melati palem, Aglaonema, adenium, euphorbia, phylodendron, pakis, monstera, ixora, cordyline, diffenbachia, sansevieria, anthurium daun, caladium



3. Tanaman sayur / Olerikultura



Sayuran Semusim : Bawang merah, bawang putih, bawang daun, kentang, kol/kubis, kembang kol, petsai/sawi, wortel, lobak, kacang merah, kacang panjang, cabe besar, cabe rawit, paprika, jamur, tomat, terung, buncis, ketimun, labu siam, kangkung, bayam.

Sayuran Tahunan : melinjo, petai, jengkol



4. Tanaman obat / Biofarmaka




Tanaman biofarmaka dikelompokkan menjadi Biofarmaka Rimpang dan Biofarmaka Non-Rimpang.

Biofarmaka Rimpang adalah tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan, kosmetik dan kesehatan yang dikonsumsi atau digunakan dari bagian umbi (rimpang). 

Komoditi: jahe, laos/lengkuas, kencur, kunyit, lempuyang, temulawak, temuireng, temukunci, dlingo/dringo 



Biofarmaka Non-Rimpang adalah tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan, kosmetik dan kesehatan yang dikonsumsi atau digunakan dari bagian-bagian tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, ataupun akar.
Komoditi: kapulaga, mengkudu/pace, mahkota dewa, kejibeling, sambiloto, lidah buaya



Perbedaan tanaman hortikultura dan industri perkebunan
Dalam pengetahuan ilmu budidaya pertanian ada perbedaan antara jenis tanaman hortikultur dan tanaman perkebunan. Beberapa orang melihat beberapa jenis kopi dan kakao bisa di tanam di perkebunan, namun bukan termasuk hortikultur.


Perbedaannya adalah jika hortikultur adalah jenis tanaman yang buahnya bisa dimanfaatkan langsung sedangkan tanaman perkebunan harus melalui tahap produksi dan pengolahan (kopi, teh dan kakao).


Selain itu ada jenis tanaman Serealia yaitu jenis tanaman pangan atau sereal seperti padi, jagung, gandum, oats

Mengenal Lebih Dalam tentang Deterjen

Sebagai bahan pembersih lainnya, deterjen merupakan buah kemajuan teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari hasil samping penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang mampu menghasilkan busa. Namun karena sifat ABS yang sulit diurai oleh mikroorganisme di permukaan tanah, akhirnya digantikan dengan senyawa Linier Alkyl Sulfonat(LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan lingkungan.

Pada banyak negara di dunia penggunaan ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masih digunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim/pasta dan busanya melimpah.



Penggunaan sabun sebagai bahan pembersih yang dilarutkan dengan air di wilayah pegunungan atau daerah pemukiman bekas rawa sering tidak menghasilkan busa. Hal itu disebabkan oleh sifat sabun yang tidak akan menghasilkan busa jika dilarutkan dalam air sadah (air yang mengandung logam-logam tertentu atau kapur). Namun penggunaan deterjen dengan air yang bersifat sadah, akan tetap menghasilkan busa yang berlimpah.

Sabun maupun deterjen yang dilarutkan dalam air pada proses pencucian, akan membentuk emulsi bersama kotoran yang akan terbuang saat dibilas. Namun ada pendapat keliru bahwa semakin melimpahnya busa air sabun akan membuat cucian menjadi lebih bersih. Busa dengan luas permukaannya yang besar memang bisa menyerap kotoran debu, tetapi dengan adanya surfaktan, pembersihan sudah dapat dilakukan tanpa perlu adanya busa.

Opini yang sengaja dibentuk bahwa busa yang melimpah menunjukkan daya kerja deterjen adalah menyesatkan. Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan. Kemampuan daya pembersih deterjen ini dapat ditingkatkan jika cucian dipanaskan karena daya kerja enzim dan pemutih akan efektif. Tetapi, mencuci dengan air panas akan menyebabkan warna pakaian memudar. Jadi untuk pakaian berwarna, sebaiknya jangan menggunakan air hangat/panas.

Pemakaian deterjen juga kerap menimbulkan persoalan baru, terutama bagi pengguna yang memiliki sifat sensitif. Pengguna deterjen dapat mengalami iritasi kulit, kulit gatal-gatal, ataupun kulit menjadi terasa lebih panas usai memakai deterjen.